Prabumulih, TNS.com - PT Pertamina EP (PEP) Adera Field mencatat rekor produksi minyak 5.214 barel per hari (BOPD), tertinggi sejak dikelola oleh Pertamina pada 1983.Catatan positif ini mendukung pencapaian kinerja PEP Zona 4 dalam rangka memenuhi kebutuhan minyak dan gas (migas) nasional.selasa, 20/01/26.
Pencapaian ini merupakan wujud peran aktif PEP Zona 4 untuk terus tumbuh dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui misi Asta Cita Pemerintah dan pemenuhan target migas nasional Indonesia 1 juta barel per hari pada 2030.Kecemerlangan produksi minyak di PEP Adera Field juga beriringan dengan tren positif produksi gas.
Per 30 November 2025, produksi gas di area ini mencapai 19,15 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), 233 persen dari target RKAP tahun 2025.”Strategi peningkatan produksi Adera terletak pada keberhasilan pengeboran di Cluster Benuang yang beberapa waktu lalu, di September 2025, peak produksi di 5.214 BOPD,” kata General Manager PEP Zona 4 Djudjuwanto.
Struktur Benuang telah mulai berproduksi migas sejak 1941. Puncak produksi tercatat pada 1984 dengan capaian produksi minyak sebesar 3.189 BOPD dan gas sebesar 80 MMSCFD.
Seiring penurunan alami lapangan, produksi migas kemudian menurun.Pada 2017, Pertamina mulai melakukan berbagai kegiatan well intervention dan well service pada sumur-sumur di struktur tersebut. Upaya ini berhasil mengoptimalkan kembali kinerja produksi, sehingga produksi migas terus meningkat dan pada 2024 mencapai 3.118 BOPD untuk minyak serta 15,23 MMSCFD untuk gas.Peningkatan produksi migas di Struktur Benuang dan PEP Adera Field beberapa waktu belakangan salah satunya dipengaruhi penerapan metode batch drilling onshore di Benuang.
Batch drilling onshore adalah metode pengeboran sumur migas yang dilakukan secara berkelompok dalam satu lokasi daratan. Metode batch drilling di struktur Benuang ini merupakan implementasi pertama kali yang dilakukan pada lapangan onshore.Pengeboran beberapa sumur dilakukan secara bertahap dengan menggunakan rig yang dapat berpindah dari satu sumur ke sumur lainnya tanpa perlu membongkar dan memasang kembali peralatan.
Selain itu, peningkatan produksi juga didorong inovasi Sectorization Zoning Model (SZM). SZM adalah metodologi yang didesain untuk memetakan area-area potensial dengan mengevaluasi kualitas reservoir dan kandungan hidrokarbon, ditunjukkan oleh peta Hydrocarbon Pore Volume (HCPV) di layer-layer tertentu.Strategi lain yang dilakukan adalah pemanfaatan teknologi terbaru, yaitu Velocity String. Velocity String adalah metode pemasangan pipa berdiameter kecil di dalam tubing produksi untuk mempercepat kecepatan aliran fluida dari reservoir ke permukaan.Metode ini diterapkan untuk meningkatkan produksi migas dengan memungkinkan beberapa lapisan (layer) reservoir diproduksikan secara bersamaan dan mandiri.
Dalam skema ini, aliran fluida terbagi menjadi dua jalur, yaitu melalui Coiled Tubing sebagai velocity string serta melalui ruang anulus antara Coiled Tubing dengan tubing produksi (ID tubing).Dengan pendekatan tersebut, sumur dapat kembali berproduksi secara lebih optimal, lebih efisien, dan dengan biaya operasional yang relatif rendah.Teknologi yang pertama kali diterapkan di Zona 4 ini tengah dikerjakan pada kegiatan workover di sumur BNG-068, Desember 2025.(AM Tim)

0 komentar:
Posting Komentar