www.topnewsumatera.com

Produksi Batubara PT BA Tahun 2018 Mengalami Kenaikan 17 Persen, Dari Yang Sebelumnya Hanya 21,92 Juta Ton

MUARA ENIM, TopNewsSumatera -  Walau Posisi kas dan setara kas FY2017 sebesar 3,55 Triliun atau hanya menurun 3% dibandingkan FY2016 sebesar Rp 3,67 Triliun. Kenaikan aset dipengaruhi oleh bertambahnya piutang usaha sebesar Rp 3,05 Triliun, seiring dengan peningkatan penjualan domestik. PT BA mempunyai sasaran Tahun 2018 

 merencanakan produksi batubara sebesar 25,54 juta ton untuk tahun 2018, yang mengalami kenaikan 17% dari rencana tahun sebelumnya sebesar 21,92 juta ton.

Dan uintuk meningkatkan produksi itu  PT Kereta Api Indonesia menyatakan komitmennya akan mengangkut batubara PTBA dari lokasi tambang sebesar 23,10 juta ton, dengan porsi masing-masing sebesar 19,40 juta ton menuju Pelabuhan Tarahan di Bandar Lampung dan 3,70 juta ton menuju Dermaga Kertapati di Palembang. Angkutan tersebut telah meningkat 13% dari target tahun 2017 sebesar 20,50 juta ton.

 Selain itu PT BA  terus  melakukan upaya  Penjualan  FY2018, Perseroan menargetkan untuk meningkatkan penjualan menjadi sebesar 25,88 juta ton dengan komposisi 53% atau 13,74 juta ton untuk memenuhi pasar domestik dan 47% atau 12,15 juta ton untuk pasar ekspor. Target penjualan domestik sedikit mengalami penurunan yaitu sebesar 5%, sedangkan penjualan ekspor mengalami kenaikan cukup signifikan yaitu sebesar 62% dari target FY2017.

Secara total, target penjualan FY2018 meningkat sebesar 3,91 juta ton atau 18% dibandingkan target FY2017 yang hanya sebesar 21,97 juta ton.

Peningkatan target ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batubara medium to high calorie ke premium market seiring dengan semakin membaiknya harga batubara, demand batubara juga menunjukkan growth yang positif khususnya di wilayah ASEAN dimana akan  beroperasinya sejumlah PLTU baru.

Saat ini  Perusahaan terus melakukan upaya efisiensi serta investasi yang diprioritaskan kepada aktivitas yang menunjang operasional tambang. Diantaranya, untuk menekan biaya produksi penambangan, Perusahaan mengakuisisi perusahaan jasa pertambangan PT Satria Bahana Sarana SBS  melalui anak perusahaan PT Bukit Multi Investama  BMI pada tanggal 21 Januari 2015. PT SBS sudah beroperasi sejak tahun 2015 dengan kemampuan produksi yang terus meningkat. Target produksi tahun 2017 adalah sebesar 36 Juta BCM yang meningkat menjadi 38 Juta BCM pada tahun 2018.

Sinergi Anak Perusahaan/Afiliasi dengan Perusahaan tidak hanya dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap pihak ketiga dan terjaminnya operasional kegiatan bisnis utama, namun terbukti menekan biaya jasa penambangan FY2017 hingga sebesar Rp 785,68 Miliar atau turun 26% dibandingkan FY2016.

FY2017, Perseroan juga memprioritaskan untuk melakukan efisiensi biaya pembelian batubara sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan Anak Perusahaan/Afiliasi serta optimasi produksi. Upaya ini mampu menekan biaya pembelian batubara FY2017 sebesar Rp 455,77 Miliar atau turun 70% dari FY2016.

Sementara itu  Investasi untuk tahun 2018, Perseroan menganggarkan sebesar Rp 6,55 Triliun yang terdiri dari    1,43 Triliun untuk investasi rutin dan sisanya Rp 5,12 Triliun untuk investasi pengembangan.

Disisi  lain  PLTU Mulut Tambang Banko Tengah  Sumsel 8  Proyek PLTU Sumsel 8 (Banko Tengah 2×600 MW) yang berada di Muara Enim Sumatera Selatan akan segera dibangun oleh PTBA bersama China Huadian. Pada Maret 2015, Perseroan melalui anak perusahaan PT Huadian Bukit Asam Power  HBAP  telah menandatangani Loan Agreement senilai USD 1,2 miliar bersama The Export-Import Bank Of China CEXIM.

Progress saat ini adalah telah ditandatanganinya amandemen Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN tanggal 19 Oktober 2017  yang lalu mengenai perubahan pembangunan jalur transmisi High Voltage Direct Current (HVDC) menjadi jalur transmisi Extra High Voltage sepanjang 45 Km dari New Aurduri, Jambi ke Muara Enim, Sumatera Selatan dan PLN telah menunjuk PT Waskita Karya sebagai pelaksananya. Konstruksi direncanakan akan dimulai tahun 2018 dengan teknologi Boiler Supercritical yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Selanjutnya akan dilakukan amandemen kontrak Engineering Procurement Construction (EPC), kontrak Operations and Maintenance   O&M dan Coal Supply Agreement CSA.
Pengembangan  PTBA akan membangun PLTU dengan kapasitas 2×300 MW di Kabupaten Indragiri Hulu Riau yang memanfaatkan lebih dari 4 juta ton batubara per tahunnya dari tambang PTBA di Peranap. PLTU menggunakan teknologi  proven  yang akan dapat  membangkitkan tenaga listrik dengan harga kompetitif sesuai aturan Pemerintah dan ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2023.

Juga  PLTU Mulut Tambang Sum-sel  6  (Enam)   PTBA bekerjasama dengan PLN akan membangun PLTU dengan kapasitas 2×300 MW di Tanjung Enim yang memanfaatkan lebih dari 3 juta ton batubara per tahunnya dari tambang PTBA di Tanjung Enim. Rencana mulai beroperasi pada tahun 2022

Selanjutnya  terdapat  beberapa diantaranya,  PLTU  Halmahera Timur Proyek PLTU Halmahera Timur kapasitas 2×40 MW merupakan salah satu proyek sinergi BUMN, dalam hal ini PTBA sebagai perusahaan energi akan menyediakan pasokan energi listrik bagi pabrik baru Feronikel milik ANTAM yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

PLTU  Kuala Tanjung Proyek sinergi BUMN lainnya adalah PLTU Kuala Tanjung kapasitas 2x350MW yang merupakan proyek strategis PTBA bersama INALUM untuk menyediakan pasokan energi listrik bagi pabrik ekspansi Aluminium Smelter II milik INALUM yang berada di kawasan Industri Sei Mangkei. PLTU ini ditargetkan dapat mulai beroperasi pada tahun 2021.

Proyek Coal Gasification  Selain melalui sinergi BUMN, untuk pengembangan PLTU, PTBA juga bersinergi dengan Pertamina, Pupuk Indonesia dan Chandra Asri Petrochemical melalui pengembangan teknologi gasifikasi untuk mengkonversi batubara menjadi syngas. Syngas merupakan bahan baku yang diproses menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan Polypropylene sebagai bahan baku plastik. Kebutuhan batubaranya diperkirakan lebih dari 5 juta ton per tahun dan direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2022.

Proyek CBM (Coal Bed Methane)  berlokasi dalam wilayah pertambangan batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini akan berproduksi dengan kapasitas 25 MMSCF (Million Standard Cubic Feet per Day) atau setara untuk membangkitkan tenaga listrik 100 MW dengan cadangan potensial sebesar 0,8 TCF (Trillion Cubic Feet).

Proyek Angkutan Batubara Untuk optimasi pengangkutan batubara, PTBA bekerjasama dengan PT KAI mengembangkan proyek angkutan batubara jalur kereta api baru yang terdiri dari:
Tanjung Enim – Simpang – Perajin dengan kapasitas 10 juta ton/tahun beserta pelabuhan baru Perajin yang rencana beroperasi pada tahun 2022.dan

Tanjung Enim   Srengsem dengan kapasitas 20 juta ton/tahun dan rencana beroperasi tahun 2022
Tanjung Enim ke Lampung (Bukitasam Transpacific Railways – BATR) yang rencana beroperasi tahun 2022 dengan kapasitas tahun ke-1 (7,5 juta ton), tahun ke-2 (15 juta ton), tahun ke-3 s/d 14 (25 juta ton), tahun ke-15 (27,5 juta ton), tahun ke-16 s/d 20 (30 juta ton)

kerjasama juga dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas jalur kereta yang sudah ada (existing) meliputi,  Double track jalur selatan dari Tiga Gajah – Baturaja – Martapura sepanjang 34,33 km
Double track jalur utara Prabu – Lembak – Payakabung – Kertapati sejauh 42,67 km beserta pengembangan fasilitas muat tongkang Dermaga Kramasan dengan kapasitas 5 juta ton/tahun. (Kristian)  

Share on Google Plus

About TopNews

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar