BATAM, TNS – Akhir pekan di Pelabuhan Internasional Batam Centre dan Harbour Bay kini tak pernah sepi. Sejak Jumat sore hingga Minggu malam, antrean penumpang mengular panjang. Bukan ransel kecil yang mereka bawa, melainkan koper-koper besar kosong yang siap diisi. Pemandangan ini bukan lagi potret musim liburan, melainkan new normal warga Singapura yang menjadikan Batam sebagai lumbung hidup.
Hingga 10.000 orang tercatat menyeberang setiap harinya, melampaui prediksi musim ramai biasa. Mereka datang bukan untuk bersantai, tetapi untuk berbelanja kebutuhan pokok yang di negerinya sendiri sudah terlalu mahal untuk dijangkau.
Inflasi pangan di Singapura tercatat naik menjadi 1,6 persen pada Februari 2026, sementara harga bahan bakar melonjak hingga sekitar SGD 2,35 per liter. Dampaknya terasa nyata: lebih dari 3.000 gerai makanan dan minuman tutup dalam beberapa tahun terakhir karena biaya operasional yang tak lagi seimbang.
Perbandingan harga bicara gamblang. Seporsi ayam geprek di Batam hanya sekitar Rp30.000, sementara di Singapura menu serupa bisa menembus Rp200.000. Hidangan seafood untuk satu keluarga di Batam cukup Rp200.000, sedangkan di Singapura dapat mencapai Rp800.000.
"Bukan wisata lintas negara lagi, ini migrasi konsumsi. Warga Singapura memindahkan sebagian kebutuhan hidup ke Batam. Mereka datang membawa koper kosong, kalkulator mental, dan niat belanja bulanan,". dikutip dari Batam Pos.
Seorang pengusaha money changer di Batam, Amat Tantoso, mengonfirmasi lonjakan ini. "Coba saja datang ke pasar hari Minggu, itu penuh dengan turis Singapura dan Malaysia. Mereka membawa koper kosong, lalu kembali dengan koper penuh belanjaan," katanya kepada Tempo. Ia memperkirakan sekitar 10 ribu wisatawan masuk setiap akhir pekan.
Komoditas yang diborong merupakan kebutuhan pokok sehari-hari seperti beras, minyak goreng, sabun, detergen, hingga obat-obatan. Bahkan ikan asin, mi instan, dan kerupuk khas Batam juga ikut dibawa pulang.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Februari 2026 mencapai 131.308 kunjungan, meningkat 3,70 persen dari Januari 2026 yang sebesar 126.620 kunjungan.
Wisatawan asal Singapura mendominasi dengan 57.887 orang atau sekitar 44 persen dari total kunjungan. Secara tahunan, kunjungan wisman ke Batam tumbuh 14,52 persen dibanding Maret 2025.
Namun menariknya, tingkat hunian hotel masih berkisar 46-48 persen, mengindikasikan bahwa banyak wisatawan yang datang hanya untuk sehari atau dua hari, bukan menginap panjang. Rata-rata lama tinggal wisman sekitar 1,86 hari, dengan pola belanja menjadi aktivitas utama.
Perjalanan feri dari HarbourFront Singapura ke Batam Centre hanya memakan waktu 45 hingga 60 menit. Jadwal keberangkatan yang teratur memberi kepastian bagi warga Singapura yang terbiasa menghitung efisiensi.
Tarif feri pulang pergi berkisar antara SGD 25 hingga SGD 70, tergantung operator dan kelas. Meski sempat ada tambahan biaya bahan bakar sejak Maret 2026, jumlah penumpang tak berkurang signifikan. "Memang ada kenaikan tarif tiket akibat BBM, tapi pengunjung Singapura ke Batam tetap meningkat," ujar staf ticketing.
Warga tetap Singapura juga mendapatkan fasilitas pembebasan Visa on Arrival untuk kunjungan singkat hingga 4 hari, semakin memudahkan mobilitas mereka.
Fenomena ini menjadi berkah dadakan bagi perekonomian Batam. Sektor ritel, UMKM, transportasi lokal, hingga kuliner mengalami lonjakan pendapatan. Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyebut peningkatan kunjungan ini sebagai sinyal positif dan menargetkan 1,7 juta wisman pada 2026.
"Wisatawan melihat Batam sebagai alternatif yang lebih ekonomis ketika harga di negara asal mengalami kenaikan," kata Kepala Disbudpar Batam Ardiwinata.
Namun kekhawatiran mulai muncul. Anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manulu menyoroti bahwa rata-rata wisman hanya membelanjakan sekitar 300 dolar AS atau Rp4,8 juta untuk beras dan minyak. "Masyarakat Batam berkompetisi dengan Singapura, sementara UMK Batam hanya Rp5,6 juta," ujarnya.
Kekhawatiran lain adalah potensi tekanan harga di pasar lokal. Anggota Komisi VII Hendry Munief mengingatkan bahwa fenomena "orang kapal" yang membeli barang dalam jumlah besar dapat mengganggu distribusi dan memicu kenaikan harga bagi penduduk asli.
Tapi satu hal yang pasti: ramainya Pelabuhan Batam akhir pekan ini bukan sekadar euforia wisata. Ini adalah potret pergeseran ekonomi global yang nyata, di mana warga dari salah satu negara terkaya sekalipun kini harus menyeberang lautan demi memenuhi kebutuhan dapur mereka, (Red)

0 komentar:
Posting Komentar